POLMAN, NEWS — Tekanan ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah asal memaksa Angga, seorang warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman),



 Sulawesi Barat, mengambil keputusan berat. Demi mengadu nasib dan memperbaiki taraf hidup keluarga, ia rela merantau meninggalkan istri tersayang di kampung halaman.


Langkah kakinya tertuju ke tanah Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Mengandalkan modal nekat dan keterampilan fisik yang ia miliki, Angga siap mengadu peruntungan di rantau sebagai buruh bangunan atau tukang batu.


Berbekal Keahlian dan Harapan

Bagi Angga, menjadi tukang batu bukan sekadar pekerjaan kasar, melainkan mata pencaharian yang ia kuasai untuk menyambung hidup. Kerja keras memeras keringat di bawah terik matahari tak jadi masalah, asalkan ada rupiah yang bisa dikirimkan untuk sang istri di Polman.


"Yang penting halal dan ada hasil buat dikirim ke kampung. Pisah sementara sama istri memang berat, tapi ini semua demi masa depan keluarga," ujar Angga saat mengemas barang bawaannya sebelum berangkat.


Menghadapi Tantangan di Tanah Rantau

Kehidupan di daerah perantauan tentu tidak mudah. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan ritme kerja yang berat, rasa rindu pada keluarga di kampung menjadi ujian terbesar yang harus ia hadapi sehari-hari.


Namun, tekad bulat dan impian untuk mengubah nasib menjadi pembakar semangat utama bagi Angga. Ia berharap proyek-proyek pembangunan di wilayah perantauannya berjalan lancar, sehingga keterampilannya sebagai tukang batu terus terpakai dan bisa memberikan penghasilan yang stabil.



0 Komentar